Showing posts with label presiden ri. Show all posts
Showing posts with label presiden ri. Show all posts

Gibran, prototipe anak muda sukar dijinakkan

 Gibran, prototipe "anak muda" sukar dijinakkan

mbah subowo 

Untuk memenangkan pilpres 24 perhatikan langkah Gibran yang sukses "membingungkan" para politikus "senior". Anak muda seperti biasa susah didalangi orang lain, ia selalu membawa langkah kakinya sendiri. Terkadang di luar nalar, di luar dugaan para "senior".

     Ciri khas kaum muda ialah menabrak aturan, menerabas pagar untuk mendapatkan jalan pintas dalam arti positif. Mengapa semua saja "gupuh"? Ia anak muda belaka yang bisa diketahui dari apa yang diinginkannya sekarang atau kelak di kemudian hari. Ia bukanlah wayang yang mudah digerakkan oleh sang dalang.

    Seluruh negeri boleh gonjang-ganjing, terutama para senior, sang yunior hanya memikirkan dua langkah ke depan daripada bidak caturnya.

    Itulah Gibran.

     Sekian untuk sekali ini.

*****

Subowo bin Sukaris
HASTA MITRA Updated at: 11:03 AM

Kekuatan Jokowi dipreteli

 Kekuatan Jokowi dipreteli

mbah subowo

Kaesang mangkring di PSI, Gibran di Golkar, suami si tengah di PDI-P, benarkah itu "diatur" Jokowi? Menurut hemat penulis... tidak. Jokowi justru membiarkan semua peristiwa berpencarnya anak-anaknya "menclok" sana-sini. Apa itu dengan "keyakinan" menyusun power bagi Jokowi pribadi? Bisa iya dan bisa sebaliknya.

   Dengan berpencarnya tiga anak kesayangannya berlabuh di tempat masing-masing, maka Jokowi memiliki mata dan telinga di mana-mana. Kerugiannya Jokowi dihujat oleh sebagian para pemujanya dianggap tidak memiliki loyalitas partai ataupun tidak tahu berterimakasih.

   Manakah yang lebih penting dianggap kurang loyal atau memiliki "kekuatan" yang tersebar? Bagi Jokowi itulah risiko pribadi. Mereka yang berhasil "menarik" anak-anak Jokowi menganggap telah sukses membawa gerbong kekuatan Jokowi, bagi Jokowi sendiri memang kondisinya lebih kondusif, karena siapapun pemenangnya dalam pilpres 24 tidak menjadi masalah baginya. Itu jauh lebih penting sesuai harapannya yakni berlanjutnya semua programnya selama ini.

   Jokowi tetaplah hanya seorang Jokowi, bukan anak-anaknya yang dijadikannya "alat". Itu adalah ulah pihak eksternal untuk menggiring "pengikut" Jokowi terbawa mengikuti arah daripada trahnya.

   Penyebaran kekuatan "dinasti" Jokowi bertujuan agar tidak terjadi "kegaduhan" pasca penghitungan suara hingga penentuan sang pemenangnya. 

   Bayangkan Jika Jokowi cs tetap dalam satu partai yang sama. Tentu semua pihak akan menduga kondisi pilpres 24 akan mirip dengan pilpres 19 yang penuh dengan "kegaduhan" saling tuduh melakukan kecurangan.

   Benarkah anggapan pihak eksternal Jokowi telah sukses meraih pengaruh dengan mempreteli Jokowi, atau justru Jokowi yang sukses menanam "mata dan telinganya" di mana-mana?

   Tentu dua belah pihak merasa sukses menjalankan skenario masing-masing. Dan selanjutnya kita tunggu kebenarannya apakah semua itu terbukti kelak mereka dapat meraih kemenangan dalam pilpres 24.

   Sekian untuk sekali ini.

*****


Subowo bin Sukaris
HASTA MITRA Updated at: 12:08 AM

Teka-teki capres PDIP, dan mustahil bagi Anies

Teka-teki capres PDIP, dan mustahil bagi Anis

mbah subowo

Pasangan paling masuk akal dari PDIP ialah Ganjar-Puan atau Puan-Ganjar.... Soal menang kalah itu suratan takdir, kan?

    Jika prediksi di atas benar, dan koalisi besar terbentuk antara KKIR dan KIB dan Prabowo marak jadi capres maka bisa berarti capres Koalisi Perubahan Anies B akan terkepung dari dua sisi! Yakni di satu sisi Koalisi Besar dan di sisi lain PDIP.

    Jika Prabowo dari koalisi besar menang atau Ganjar-Puan lolos di babak pertama tamatlah Anies. Atau jika Prabowo maupun Ganjar-Puan hanya lolos salah satu maka yang pihak yang kalah bisa mendukung satu sama lain di putaran kedua dengan bergabung pada pihak yang menang hingga terbentuklah Koalisi superbesar gabungan Koalisi besar plus PDIP. Dengan sendirinya  tamat juga riwayat capres Koalisi perubahan Anies B.

    Jadi bagaimana pun juga di atas kertas tiga parpol Koalisi Perubahan melawan enam parpol besar lainnya, rasanya sulit buat koalisi perubahan untuk menang!

    Ada satu peluang terbuka bagi Koalisi perubahan, tatkala lawannya masih kecil dan terpecah maka harus menang telak pada putaran pertama!!!

    Sekian untuk sekali ini.

*****

Subowo bin Sukaris
HASTA MITRA Updated at: 4:45 AM

Santri oposisi bakal menang pilpres 2024?

 Santri oposisi bakal menang pilpres 2024?

mbah subowo 

Pendatang baru koalisi partai "koalisi perubahan" didominasi parpol oposisi sekaligus golongan santri (meminjam Clifford G). Akankah giliran koalisi parpol yang paling mentereng ini bisa menang dalam pilpres 2024?

    Ramalan-ramalan masa lalu memang mendekati kenyataan kali ini bahwa penguasa baru suatu ketika adalah golongan "santri". Apalagi didukung oleh media massa teve dan media massa lainnya milik Paloh yang notabene pendukung Jokowi saat momen pilpres 1 &2.

    Lawan-lawan atau calon lain harus bergegas "memboking" media massa teve milik konglomerat lainnya. Bagaimana dengan Koalisi Gerakan Indonesia Raya apa sudah menambatkan pilihan pada suatu media teve tertentu? KIB jelas sudah memiliki media teve dan media massa lainnya.

    Bagaimana dengan koalisi atau partai utama pendukung Jokowi, PDIP, mau paka teve naon untu promo?

    Sekian untuk sekali ini.

*****

Subowo bin Sukaris
HASTA MITRA Updated at: 9:48 AM

Jokowi si Satrio Pinilih

Jokowi si Satrio Pinilih

mbah subowo
Sukses menjadi presiden lima tahun pertama, dan dilanjutkan dengan periode kedua memang suatu “keluarbiasaan” bagi seorang Jokowi yang bukan pentolan partai politik, dia hanya anggota partai biasa-biasa saja  yang “beruntung” diberi kepercayaan memangku jabatan politik. Walau demikian untuk mengisi jabatan publik itu tentu saja butuh perjuangan tatkala harus melalui proses politik “menang dalam pilihan umum”.
     Kita tahu riwayat sosok yang satu ini dalam pemilihan umum mulai dari pemilihan umum daerah tingkat 2, pemilu daerah tingkat satu, dan pemilu menjadi orang nomor satu di republik ini, Jokowi berhasil, tak pernah kalah sekalipun.
     Hal yang terjadi di masa lalu itu sebagaimana digambarkan di atas sebagai sosok unik, maka Presiden Jokowi layak disebut “Satrio Pinilih”, Satria Pilihan!
     Memenangkan berbagai kontestasi pemilihan dan akhirnya menjadi seorang “jago”. “Jago” dalam alam pemikiran orang Jawa kebanyakan, harus selalu menang untuk selama-lamanya, sepanjang hidupnya, bahkan dalam tiap pertarungan melawan siapapun, kapan pun, dan di manapun.
     Kelak pada masanya Jokowi pasti turun panggung maksimal pada 2024. Lantas apa? Dalam alam pemikiran orang Jawa, Jokowi harus tetap “jago”, bisa jadi jago pemimpin partai, bisa juga jago sebagai penasihat untuk partai yang berjasa padanya. Bisa juga jadi simbol atau tokoh kebanyakan yang “blusukan” atau balik lagi seperti dulu.
     Sekian untuk sekali ini.
*****

Subowo bin Sukaris
HASTA MITRA Updated at: 6:07 PM

“Ramalan” Allan Nairm kegaduhan politik pilpres 2019

“Ramalan” Allan Nairm kegaduhan politik pilpres 2019

Subowo.

Allan Nairn satu-dua hari menjelang hari H pemilu 2019 memang telah menulis “serangan fajar” berupa “ramalan” mengenai paslon pilpres X jika menang bakal bikin kegaduhan besar di NKRI.
    Dalam “ramalan” Allan Nairn jika menang kelak Paslon pilpres X akan menjadi penguasa fasis dan otoriter yang memberangus lawan politiknya. Paslon X akan menjadi antek Asing dan seterusnya.
     Ada yang mengatakan jurnalis Allan Nairn bekerja atas dasar pesanan, dan sebagainya. Akan tetapi yang jelas sekian prosen dari tulisannya mungkin memang benar, sekian prosen tidak benar. Akan tetapi jika menilai dari “nuansa” tulisannya, selalu terbukti betapa tajam analisisnya. Tulisan Allan Nairn yang bikin heboh sebelumnya mengenai serangan terhadap Presiden Jokowi melalui jalan pintas berupa usaha penggulingan Ahok sang gubernur DKI.
     Pemilu 2019 telah usai, penghitungan suara sedang berjalan oleh KPU. Hampir sebulan berlalu hasil penghitungan KPU masih bersifat sementara, akan tetapi naga-naganya Paslon Y ternyata yang akan keluar sebagai pemenang pilpres 2019.
     Goro-goro dan gonjang-ganjing pun terjadi planning B tengah dijalankan oleh paslon X, dengan segala upaya terus membikin kegaduhan menyebar di media massa, kondisi ini hanya menimbulkan rasa khawatir semua kawula NKRI.
     Inilah ya inilah bukti ramalan Allan Nairn benar-benar sedang terjadi, walau cuma kegaduhan dan berbeda dari prediksi, akan tetapi yang dilakukan oleh paslon X, intinya sama saja tiada lagi suasana sejuk karena membikin kegaduhan demi kegaduhan semakin hari semakin besar dan membuat bingung terutama orang yang lugu politik. Naga-naganya umpan sedang masuk perangkap, awas ada yang pasang jebakan Batman.
     Menurut hemat penulis Paslon pilpres X, seharusnya sabar menunggu hingga masa pemilu 2024. Lima tahun tak akan lama, hanya sekejab saja!
     Untuk mengisi waktu lima tahun itu sambil Dia tidur pun kelak akan menang! pada pilpres 2024. ...
     Apa lacur! Kini yang terjadi adalah sebagian orang netral mulai kecewa, kehilangan simpati terhadap paslon X karena bikin ulah dan gaduh.
     Kita bayangkan dalam sebuah ruangan kelas SD, tatkala sang guru ada keperluan terpaksa keluar dari kelas, dan kalau ada satu teman saja mulai bikin gaduh, maka teman-temannya sekelas tak ada yang suka pada anak tersebut, bukan?
     Memang benar semua itu bagian dari strategi paslon pilpres X dengan bikin gaduh, akan tetapi tindakan seperti itu pun yang justru sangat merugikan dirinya sendiri di masa depan.
    Kecurangan demi kecurangan selama berabad dalam sejarah pilihan kepala desa di Nusantara sejak jaman nenek moyang telah terjadi dan akan tetap selalu ada sepanjang masa mengiringi tiap-tiap pesta demokrasi di NKRI, yakni bersumber dari atau yang dilakukan oleh para petaruh atau botoh. Mereka lah yang patut diberantas karena bersalah mempengaruhi para pemilih agar mendukung salah satu calon kades, tujuannya cuma satu agar menang taruhan. Terkadang para petaruh juga berusaha gigih mempengaruhi dan menyasar “KPU” desa yang menyelenggarakan pilihan kades tersebut. Apapun segala cara akan dilakuikan oleh petaruh/ botoh demi memenangkan “jagonya”. Dalam keadaan sebagai ini sebenarnya para kontestan pemilu kades tidak tahu menahu soal “kecurangan” yang masif terstruktur tengah terjadi.
    Sekian untuik sekali ini.

*****
Subowo bin Sukaris
HASTA MITRA Updated at: 3:01 AM

Pertarungan dan ancaman ideologi asing Pilpres 2019

Pertarungan dan ancaman ideologi asing Pilpres 2019

mbah Subowo.

Siapapun yang keluar sebagai pemenang: Pancasila tetap sebagai ideologi NKRI.
   Sejarah mencatat ancaman terhadap ideologi Pancasila NKRI memang beraneka ragam sejak proklamasi kemerdekaan, sejak dari Pancasila-nya Orde Lama, Orde Baru, hingga Orde Reformasi. Orde Lama jelas ancaman terhadap ideologi Pancasila-nya berasal dari Kapitalisme-Imperialisme (Liberalisme). Pancasila-nya Orde Baru ancamannya berasal dari Marxisme-Leninisme (Komunisme). Sedangkan Orde Reformasi bisa semua ideologi di atas (semasa Orla dan Orba) jadi ancaman ditambah ideologi lainnya. Ancaman nyata ideologi Pancasila di era Reformasi tidak datang dari mana pun akan tetapi tergantung dari siapa yang mengoarkannya. Para pendukung Orba akan mengatakan hal di atas, demikian Orla. Berbagai elemen yang eksis di era Reformasi saling tumpang tindih dan tetap saja dengan klaim masing-masing dari institusi mana yang mengoarkannya.  
    Institusi/ormas  X bilang ancaman terhadap Pancasila berasal dari Y, Institusi Z bilang dari A, dan seterusnya. “Musuhnya musuh adalah teman, dan temannya musuh adalah musuh.”
   Masing-masing penganut paham-ideologi selalu mengatakan yang paling benar adalah dirinya sendiri.
    Kembali pada judul di atas, “Jokowi (Pancasila) melawan siapa? Atau Ancaman nyata Pancasila sebenarnya berasal dari ideologi mana?” Apakah Partai Komunis Tiongkok? Komunis Tiongkok memang ancaman serius di sektor ekonomi (penggelontoran barang dan modal besar-besaran). Akan tetapi negara lainnya juga melakukan hal yang sama a.l. Jepang. Secara ideologis Tiongkok tidak butuh menyebarkan pengaruh ideologinya ke mancanegara.
    Amerika Serikat dengan kemampuan adidaya (superpower) secara ekonomi dan militer memang punya ideologi mencari musuh atau teman di mana-mana (…. ikut mendukung  kami atau menjadi musuh kami….).
    Semua saja punya motif ekonomi alias mencari keuntungan semata. Beda tujuan mungkin di luar paham AS dan Tiongkok, ideologi lainnya jelas punya tujuan untuk merebut kekuasaan politik di NKRI sekaligus mengubah ideologi sesuai sesuka kehendaknya. Di  sini memang NKRI membutuhkan penjaga gawang ideologi Negara yang super handal.
   Kedua kontestan paslon pilpres 2019 memang punya kompetensi untuk hal tersebut di atas (menjaga Pancasia NKRI). Tidak usah diragukan lagi.
    Selamat memilih!
*****


Subowo bin Sukaris
HASTA MITRA Updated at: 2:59 PM

Ramalan pemenang Pilgub DKI 2017

Ramalan pemenang Pilgub DKI 2017

mbah Subowo bin Sukaris

Ahok, Anies, dan Agus, tiga pasang cagub dan cawagub yang resmi bertarung pada pemilgub DKI Jakarta 2017 mendatang. 
      Ketiga pasang cagub-cawagub diusung oleh koalisi parpol yang kita semua sudah tahu dibenggoli oleh dua mantan presiden, dan satu mantan kandidat presiden pada pilpres 2014 yang lalu.
    Pertarungan memperebutkan DKI satu akan menentukan pertarungan pilpres 2019 yang akan datang. Mengapa?
     Setelah muncul berhasil memenangkan pilgub DKI 1917, maka siapapun mereka, apa itu: Prabowo, SBY, atau Mega akan lebih mulus lagi bertarung untuk diri sendiri atau jagonya pada pilpres 2019.
    Ahok, Agus, dan Anies bakal bertarung ketat, dan kami prediksi Ahok meraup 40-45-an persen suara , Anies 30-35-an persen, dan Agus 25-30-an persen.
   Dengan prediksi di atas akan terjadi putaran kedua untuk mendapatkan sang pemenang dalam Pilgub DKI yang telah berlangsung untuk kesekian kalinya.
    Pada prediksi di atas Agus dan gerbongnya akan menentukan siapa yang lebih unggul pada putaran kedua, jika suara konstituennya disalurkan melalui salah satu peserta Pilgub putaran kedua, maka dipastikan siapa yang didukungnya bakal mendapat 51% lebih.
      Mega berseteru dengan SBY, dan Prabowo juga seteru Mega. Bagaimana jika mereka berdua (Sby dan Prabowo) kompak atau minimal salah satunya bersikap netral. Itulah yang bisa disaksikan pada putaran kedua.
     Bagaimana hasil putaran kedua? 
    Kita ketahui bahwa gerbong Agus maupun gerbong Anis  berbaris rapi gerbong parpol tertentu yang afiliasinya ke agama tertentu, secara kebetulan hal itu berseberangan dengan pribadi Ahok. 
     Dengan sendirinya koalisi parpol yang kalah maupun setengah kalah maka gerbong parpol yang dibawanya akan terpisah dari lokomotif untuk menentukan jalannya sendiri. 
     Dari kubu Agus dan Anies notabene diikuti oleh gerbong berpanji agama tertentu dapat diperkirakan mereka semua akan bersatu guna mendukung siapapun yang kelak tampil sebagai lawan daripada Ahok. 
     Akan tetapi Lokomotif dari pengusung Agus, yakni Demokrat bisa saja bertindak netral, sebagaimana biasanya yang menjadi ciri khas garis politik mantan Presiden SBY.
      Walau kami punya prediksi mengenai perolehan suara yang mungkin diperoleh para kandidat, akan tetapi pertarungan pilgub DKI Jakarta 2017 kali ini memang boleh dikatakan pertarungan yang seimbang. Seimbang baik mengenai koalisi parpol pengusungnya maupun pribadi yang tampil sebagai petarungnya.

*****


Subowo bin Sukaris
HASTA MITRA Updated at: 8:49 AM

Inilah bedanya -- (era) SBY vs Jokowi

Inilah bedanya -- (era) SBY vs Jokowi

mbah subowo bin sukaris

Semasa SBY (2004-2014, seringkali terjadi bencana alam dibanding semasa Jokowi (2014--). Masa SBY terjadi gempa besar Yogya dan seantero Nusantara, gunung meletus antara lain: Bromo, Merapi, Kelud, dlsb. 

Subowo bin Sukaris
HASTA MITRA Updated at: 8:26 PM

Ini Dia Calon Presiden 2014

Ini Dia Calon Presiden 2014

Berikut ini dua tulisan dibuat pada 1998-1999 yang masih relevan dalam menilai sosok-sosok yang bakal tampil menjadi petarung pada Pilpres 2014,

Subowo bin Sukaris
HASTA MITRA Updated at: 10:41 AM