4.7.11

Satrio Piningit Serat Darmogandhul

Satrio Piningit Serat Darmogandhul

mbah subowo bin sukaris

In an effort colonialist politics of divide et impera, exactly the same as the British colonialist government (the British East Indies) support to the Islamic works of Hazrat Mirza Ghulam Ahmad in India. Then so is the case with Serat Darmogandul the author is still mysterious in the period between the British Governor-General T.S. Raffles in Land of Java until the round ahead of the Javanese Prince Diponegoro War. Raffles even had time to study the cultural and literary heritage of Java which is then poured in the History of Java, published in London, Nederlands-Indie and British East Indies government, borrowed the jargon of the New Order "should be assumed, can not can, directly or indirectly" involved with the publication of Serat Darmogandul which aims to divide the Native Indie population.
      As reference materials to solve the mysterious who is the writer Serat Darmogandul when first published, the classical poet Ronggowarsito Java is still only 22 years old, and Native poet and his predecessors have also characterized their work in the form of singing poems, among others gambuh. Very different from the Serat Darmogandul already shaped mixture of essays in the Java language, ngoko and kromo inggil. At that time the author of Europe already accustomed to using such writing style in European languages, and may further the work of foreign authors for the purposes of publishing translated into Java, the same as the language used in writing Serat Darmogandul.
      Serat Darmogandul glance, the last farewell adviser Majapahit, Sabdo Palon Noyo genggong with King Brawijaya as follows:
      Sabdo Palon expressed his disappointment to King Brawijaya, "Kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal." More or less meaning, "I will find a one-eyed satrio momongan."
     The King also asked by Sabdo Palon a witness later in the future emergence of Satrio Piningit (referred to here is the Ratu Adil), "ing besuk yen ana wong Jawa ajênêng tuwa, agêgaman kawruh, iya iku sing diêmong Sabdapalon." roughly means "Someday in the future will show a Java add to the original name the name of the elder: mbah, Kyai, Ki, Ni, Nyi, and others, and the corresponding master the science of religion (Javanese), he was the one who cared for by Sabdo Palon."
      Serat Darmogandul regardless of whether it is genuine or plagiarism from other sources may be mentioned that the controversial content is about rebellion, treason, or attempt to overthrow the power carried by Walisongo against the kingdom of Majapahit. While the Wali tenth Syech Siti Jenar against treason against the Majapahit, then he should be removed from the earth. Syech Jenar condemn one Sunan who punished as follows, "Someday in the future if the kings (leaders) in the Land of Java consists only of kings (leaders) who have elderly parents, then turns me hang your neck with yarn ... . "
      Serat Darmogandul since it was first published just before the Java War had erupted the divisive power of religion (Islam) against the Dutch East Indies government in addition has also dampen the mass support of the masses against the war these moslems. It is said in part that recounts the struggle of one of their Sunan in the effort to convert the East Java region began Kertosono to Kediri in a way that does not like the masses that is destroying all the ancient statues made of stone sculpture in the form of ancestral heritage and scrape out the various forms of other cultures that are considered contrary to the teachings Islam.
The contradiction between the masses of the Shiva-Buddhist preachers and followers of Islam that is the main mission Serat Darmogandul to this day. It is not surprising when elections fifties Serat Darmogandul raised again, until finally even be forbidden book. Whether the ban will be shut down trail past the collapse of the Majapahit and how to spread Islam by Walisongo not done peacefully? As an illustration in Islam is halal laws to eradicate paganism in a certain way and within certain limits. Violent and nonviolent manner considered to be relatively alone. Moreover destroy things that bring polytheism is very kosher. And on the other side on the other side of things as it is considered a form of violence against an outcome of cultural objects.
      And the most feared of certain parties in Serat Darmogandul, Sabdo Palon utterance is to be re-deploy certain religion hundred years since he parted with the King Brawijaya, and it is considered destruction of other religions. This assumption is certainly not in accordance with the turning wheel of history that always produces a new synthesis, and not return to the original thesis. And a new synthesis that is "something more superior" is the result rather than the battle of the party opposing it for five centuries. 
****

Satrio Piningit Serat Darmogandul

Dalam rangka dan upaya kaum kolonialis kulit putih di Hindia menggelar 
politik pecah belah dan kuasailah (divide et impera), telah terjadi kesamaan yang persis seperti dilakukan oleh pemerintah kolonialis Inggris (British East Indies) di India dengan memberi dukungan terhadap karya Islami Mirza Ghulam Ahmad. Ternyata demikian pula yang terjadi di Hindia terhadap Serat Darmogandul yang penulisnya masih misterius pada kurun antara kekuasaan Inggris Gubernur Jenderal T.S. Raffles di Tanah Jawa hingga babak menjelang terjadinya Perang Jawa yakni perang yang dikobarkan oleh Pangeran Diponegoro. Raffles malah sempat-sempatnya mempelajari peninggalan kebudayaan dan sastra Jawa yang kemudian dituangkan dalam History of Java terbit di London, dengan demikian dapat ditengarai pemerintah kolonial Hindia-Belanda bersama kolonialis Inggris meminjam jargon Orde Baru "patut diduga, tidak bisa tidak, langsung maupun tidak langsung"  terlibat dengan terbitnya Serat Darmogandul yang bertujuan memecah belah penduduk Pribumi Hindia.
      Sebagai bahan referensi memecahkan siapa penulis misterius Serat Darmogandul tatkala pertama kali terbit, pujangga klasik Jawa Ronggowarsito masih berusia 22 tahun, dan karya pujangga Pribumi tersebut dan juga para pendahulunya memiliki ciri khas karya mereka dalam bentuk syair nyanyian, antara lain gambuh. Sangat berbeda dengan Serat Darmogandul sudah berbentuk esai dalam bahasa Jawa campuran, ngoko dan krama inggil. Pada masa itu penulis Eropah sudah terbiasa menggunakan gaya tulisan demikian dalam bahasa Eropa, dan bisa jadi selanjutnya hasil karya penulis asing itu untuk keperluan penerbitan diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, sama sebagaimana bahasa yang dipergunakan dalam penulisan Serat Darmogandul.
      Selayang pandang Serat Darmogandul, pada babak perpisahan antara penasihat Majapahit, Sabdo Palon Noyo Genggong, dengan Prabu Brawijaya terjadi percakapan mengenai Satria Piningit atau Satrio Piningit (yang dimaksud di sini Ratu Adil) baru sebagai berikut:
    Sabdo Palon mengungkapkan kecewa hatinya kepada momongannya, Prabu Brawijaya, "Kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal." Kurang lebih artinya, "Saya akan mencari satrio asuhan yang bermata satu."
        Sang Prabu juga diminta oleh Sabdo Palon menjadi saksi kelak di masa depan mengenai munculnya Satria Piningit atau Satrio Piningit (yang dimaksud di sini ialah Ratu Adil) dalam percakapan berikut, "Ing besuk yen ana wong Jawa ajênêng tuwa, agêgaman kawruh, iya iku sing diêmong Sabdapalon." kira-kira artinya "Kelak di masa depan akan muncul seorang Jawa menambahi pada nama aslinya nama yang dituakan: mbah, kyai, ki, dan lainnya, dan yang bersangkutan menguasai ilmu pengetahuan agama (Kejawen), dia lah yang diasuh oleh Sabdo Palon."
      Serat Darmogandul terlepas dari apakah di dalamnya itu asli atau plagiasi dari sumber lain (dari hasil karya sebelumnya oleh sang penulis Serat Darmogandul sendiri) dapat disebutkan isinya yang kontroversial ialah mengenai makar, subversif, atau upaya menggulingkan kekuasaan yang dilakukan oleh Walisongo terhadap kerajaan Majapahit. Sedangkan wali kesepuluh Syech Siti Jenar menentang makar terhadap Majapahit, maka dia harus disingkirkan dari muka bumi. Syech Jenar mengutuk salah seorang Sunan yang menghukumnya sebagai berikut, "Kelak di masa depan jika para raja (pemimpin) di Tanah Jawa hanya terdiri dari raja (pemimpin) yang sudah tua berusia lanjut, maka gantian aku yang menghukum gantung lehermu dengan lawe...."
      Serat Darmogandul sejak pertama kali diterbitkan tepat menjelang Perang Jawa meletus telah memecah belah kekuatan kaum agama (Islam) dalam melawan pemerintah Hindia-Belanda di samping itu juga telah menyurutkan dukungan massa rakyat jelata terhadap perang kaum santri tersebut. Konon pada bagian yang mengisahkan perjuangan salah seorang Sunan dalam upaya mengislamkan daerah Jawa Timur mulai Kertosono hingga Kediri dengan cara yang tidak disukai massa rakyat yakni merusak semua arca kuno berupa patung terbuat dari batu peninggalan leluhur dan mengikis habis berbagai bentuk budaya lainnya yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam.
      Pertentangan antara massa rakyat Syiwa-Buddha terhadap para pendakwah dan pemeluk Islam itulah yang menjadi missi utama Serat Darmogandul sampai hari ini. Maka tidak mengherankan tatkala menjelang pemilu tahun limapuluhan Serat Darmogandul dimunculkan kembali, hingga akhirnya malahan dijadikan buku terlarang. Apakah dengan larangan itu dapat menutup jejak masa silam mengenai keruntuhan Majapahit dan cara penyebaran agama Islam oleh Walisongo tidak dilakukan secara damai? Atau berusaha menutupi bahwa Raden Patah, Sultan Demak dari kerajaan Islam pertama di Jawa itu berdarah Tiongkok keturunan Brawijaya sendiri dengan putri Campa yang sedang mengandung dihadiahkan kepada Adipati Majapahit Arya Damar dari Palembang? 
       Sebagai gambaran dalam ajaran Islam adalah halal hukumnya membasmi kekafiran dengan cara tertentu dan dalam batas tertentu. Cara kekerasan dan tanpa kekerasan dianggap relatif saja. Apalagi merusak benda yang membawa kemusyrikan adalah sangat halal. Dan di sisi lain di seberang sana tentu hal sebagai itu dianggap suatu bentuk kekerasan terhadap sebuah benda hasil budaya.
      Dan yang paling dikhawatirkan pihak tertentu dalam Serat Darmogandul ialah ucapan Sabdo Palon yang akan kembali menyebarkan agama tertentu limaratus tahun lagi sejak beliau berpisah dengan Prabu Brawijaya, dan itu dianggap kehancuran bagi agama yang lain. Anggapan demikian itu tentu saja tidak sesuai dengan roda berputarnya sejarah yang selalu menghasilkan sintesa baru, dan bukan kembali pada tesis awal. Dan sintesa yang baru itu adalah "sesuatu yang lebih unggul" yang menjadi hasil daripada pertarungan dari pihak yang saling bertentangan selama lima abad itu.
****
Subowo bin Sukaris
HASTA MITRA Updated at: 12:56 PM

No comments :