11.6.11

Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu vs Satrio Piningit

Sri Aji Joyoboyo predict a leader of the archipelago's next for centuries awaited by the people who expected his dream of just and prosperous life into reality. And it can happen only with the presence of the leader or leaders called the "Ratu Adil" who ruled the country with a fair and wise as you wish the people at large. Of that scholars Dutch East Indies have been formulated and considered "Ratu Adil" is just a myth and is a cultural statement that is always hereditary recalled at any time by the common people who are not getting prosperity and justice from their own country.

Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu vs Satrio Piningit  

mbah subowo  bin sukaris


     The Dutch scholar who is an expert on cultural issues the Dutch East Indies were already supposed to be of the opinion that the Ratu Adil is a myth with a reason that only the Dutch and the Dutch East Indies government itself is absolute and is entitled to become the Ratu Adil. While indigenous leaders should not be a chance to again have a leader and the country itself as the "Ratu Adil" for the people of the archipelago.
     Joyoboyo predictions about the figure Satrio Piningit or fair queen was truly extraordinary and occur only in exceptional times, and it seems it could only happen dozens or hundreds of years later in the future. However, "Ratu Adil" Joyoboyo that do not necessarily lead to the figure of a leader. Ratu Adil it could mean the archipelago republic system of government, who have written laws, and regulations are perfectly constitutional. And of course the perfect archipelago country with any government system that for example: the socialist democratic system, the Pancasila, or any system that would become "Ratu Adil" if you really run properly, fairly and wisely -- in accordance with the intent and purpose establishment of the state embodied in the constitution and various regulatory enhancements.
     If Joyoboyo predicted Ratu Adil as a state system, then the heir Joyoboyo Ronggowarsito further predict direct person Nusantara leader who led the country as many as seven Satrio Piningit. Six Satrio Piningit been successively ruled, so the remaining one seventh the Satrio Piningit "Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu".
     Satrio Piningit Joyoboyo will only appear in a state of emergency "war" in the archipelago. While Satrio Piningit seventh Ronggowarsito can appear at any time without waiting for changes in age or any emergency. Anyone who appears to lead as "Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu" in the next few years will change the country profanity archipelago that became the state "Ratu Adil" becomes really manifest justice and prosperity for their people. And of course Satrio Piningit is able to act decisively to punish those who suffering to the people.
****

Satrio Piningit vs Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu


Pada abad kesebelas Sri Aji Joyoboyo meramalkan seorang pemimpin Nusantara terbijak (Ratu Adil) yang selanjutnya selama berabad ditunggu oleh rakyat yang mengharapkan mimpinya tentang kehidupan adil makmur menjadi kenyataan. Harapan munculnya sang ratu adil semakin menjadi-jadi, terutama sejak bangsa Barat memerintah wilayah Nusantara yang menyengsarakan Pribumi. Mimpi rakyat selama berabad itu akan terwujud hanya dengan hadirnya sang pemimpin atau tokoh yang disebut "Ratu Adil" yang memerintah negeri dengan adil dan bijaksana sesuai keinginan rakyat banyak. Menanggapi sosok Ratu Adil itu tidak kurang dilakukan studi oleh para sarjana totok  Belanda yang ahli mengenai pribumi Hindia-Belanda, dan mereka telah merumuskan, menganggap, dan menyimpulkan secara ilmiah bahwa "Ratu Adil" itu cuma mitos dan merupakan suatu statemen budaya yang turun-temurun yang selalu dimunculkan kembali kapan saja oleh rakyat jelata yang merasa tidak mendapatkan kemakmuran dan keadilan dari negara mereka sendiri.
       Para sarjana Belanda yang ahli mengenai masalah budaya Hindia-Belanda itu sudah seharusnya berpendapat demikian, bahwa ratu adil hanyalah mitos belaka tentu bukan tanpa alasan tersembunyi. Dan satu-satunya alasan paling kuat ialah bahwa cuma bangsa Belanda dan pemerintah Hindia-Belanda sendiri yang mutlak dan berhak menjadi atau menyandangkan gelar bagi dirinya sendiri sebagai sang Ratu Adil. Sedangkan pemimpin pribumi dengan kerajaan Pribumi tidak boleh berkesempatan lagi memiliki pemimpin dan negara sendiri sebagai "Ratu Adil" bagi rakyat Nusantara.
       Ramalan Joyoboyo mengenai sosok satria piningit atau satrio piningit yang dimaksud di sini adalah ratu adil itu sungguh luar biasa dan hanya terjadi di jaman yang luar biasa, dan rasanya itu hanya bisa terjadi puluhan atau ratusan tahun kelak di masa depan, akan tetapi bisa juga dapat terjadi dalam waktu dekat asalkan memenuhi syarat sejarahnya. Di samping itu juga dengan dasar perkembangan sejarah maka ratu adil Joyoboyo itu tidak harus berarti mengarah pada sosok seorang manusia pemimpin. Ratu Adil itu bisa saja berarti sistem pemerintahan republik Nusantara, yang memiliki hukum tertulis, dan peraturan-peraturan ketatanegaraan yang sempurna. Dan tentu saja negara Nusantara yang demikian sempurna dengan sistem pemerintahan apapun itu misalnya: sistem sosialis kerakyatan, sistem pancasila, atau sistem apapun yang akan menjadi "Ratu Adil" jika para pemimpinnya benar-benar menjalankan negara dengan benar, adil, dan bijak -- sesuai dengan niat dan tujuan pendirian negara yang termaktub dalam undang-undang dasar dan berbagai peraturan tambahannya.
       Jika Joyoboyo meramalkan Ratu Adil sebagai sebuah sistem kenegaraan di samping sosok pemimpin luar biasa di masa depan, maka Ronggowarsito sang pewaris Joyoboyo lebih jauh lagi meramalkan langsung person pemimpin Nusantara yang akan berturut-turut memimpin negara tersebut sebanyak tujuh Satrio Piningit. Enam satrio piningit telah berturut-turut memerintah, sehingga tersisa satu lagi yakni satrio piningit ketujuh "Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu".
       "Satrio Piningit" Ratu Adil Joyoboyo hanya akan tampil dalam keadaan darurat "bencana besar, militer global, dan sebagainya" di Nusantara. Sedangkan Satrio piningit ketujuh Ronggowarsito "Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu" dapat tampil kapan saja tanpa menunggu perubahan jaman atau keadaan darurat apapun. Siapapun yang tampil memimpin Nusantara dan sebagai "Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu" pada beberapa tahun mendatang sesuai dengan gelar yang disandangnya akan berupaya mengubah negara Nusantara yang carut-marut atau "cuma begini saja" menjadi negara "Ratu Adil" yakni benar-benar terwujud rasa keadilan dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Dan di samping itu juga tentu saja Satrio pinandito sinisihan wahyu tersebut seyogianya mampu bertindak tegas menghukum pihak yang merupakan sumbernya bagi yang menyengsarakan hidup rakyat termasuk merebut dominasi modal asing menjadi dominasi modal negara, dan juga menghukum mereka yang melakukan makar, tindakan subversif dengan motif ekonomi yakni mengkorup uang negara dan sebagainya yang berupa daftar panjang seterusnya. Singkatnya ialah Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu seyogianya menegakkan panji, "Asesanti Trisula Weda Joyoboyo" alias menegakkan panji, "Trisakti Bung Karno."***
related post 
Subowo bin Sukaris
HASTA MITRA Updated at: 3:25 PM

No comments :