24.12.10

Divination Ronggowarsito "white wewe beat wedhon"


Divination Ronggowarsito "white wewe beat wedhon"


mbah sghriwo

R. Ng. Ronggowarsito who lived during the early eighteenth century poet famous and recognized as a classical Javanese royal past in the history of Java. This was evidenced by his official position was appointed as poet of Surakarta Palace in 1844 at the age of 34 years. Sabda Tama one of the works
Ronggowarsito -- a boarding school graduate Tegalsari, Ponorogo -- there is a poem Gambuh nuanced predictions:

Supaya pada emut
amawasa benjang jroning tahun
windu kuning kono ana wewe putih
gegamane tebu wulung
arsa angrebaseng wedhon

"Remember you all, someday in a future when it began to enter the year "windu kuning", will appear "wewe putih" using weapons "tebu wulung" capable of defeating wedhon."
      World political order at the beginning of the third millennium, there are three major camps: the capitalist-liberal bloc, the socialist-communist bloc, and the bloc of Islamic countries. Mainstay of the three sides that the United States (wewe putih), People's Republic of China (windu kuning), while Islamic countries (wedhon) fragmented in many small camps opposing each other. United States of all time certainly remain hostile to the two other blocks at once or one by one. This can be evidenced by incessant U.S. continues to hunt for Islamic terrorism. U.S. tried to surround the Chinese territory by placing the military power and joint military exercises in South Korea, Japan, and Taiwan.
      Hot war, cold war between the U.S. and its allies against communism world already ended with the collapse of the Soviet Union into the CIS countries, and in 1992 was played into the corners of the world, "Communism is dead ...!" Bush senior said.
      New model of world war in progress today is "War of the intelligence world." The entire intelligence apparatus deployed worldwide hunt for terrorists. One day in the future no more new wars of "the war the world faces a monster." With human super technology will be able to make intelligent robots that eventually turned into a monster.
      The concept of "Nasakom" Bung Karno aimed at reconciling the three sides of the world who are fighting the course of its spread is feared by the capitalist-liberal bloc. Ronggowarsito forecast does not bother anyone because it aims to interpret wedhon or pocong as a symbol of Islamic countries who would be subdued by a white Wewe. In Islamic law a prediction or prophecy is unlawful, except for the Prophet himself. There is little advice for the wedhon to quickly unite ourselves and also take a new friend even though the former enemy, because the accuracy of interpretation of Ronggowarsito prophecy is ..... walluhualam bisawab. For the history of his own journey must continue with the victory awarded to the party that more accurately the will of history itself. History must go on.
 
******

Ramalan Ronggowarsito "wewe putih mengalahkan wedhon"


R. Ngabehi Ronggowarsito yang hidup pada awal abad kesembilan belas masehi (1800-an) termasyhur dan diakui sebagai pujangga Jawa klasik terakhir dalam sejarah kerajaan Jawa. Ramalan pujangga ini yang sangat dikenal luas hingga hari ini ialah mengenai Presiden atau pemimpin negara Republik Indonesia yang dipimpin oleh tujuh satri0 piningit. Ramalan tujuh satrio piningit oleh Ronggowarsito ini merupakan suatu pengembangan daripada ramalan Joyoboyo bahwa satrio piningit hanya ada lima orang masing-masing berinisial suku kata: no, to, no, go, ro. 

       Gelar pujangga keraton bagi Ronggowarsito dibuktikan dengan jabatan resminya yakni diangkat sebagai pujangga Keraton Surakarta pada 1844 di usia 34 tahun. Sabda Tama salah satu karya Ronggowarsito -- seorang lulusan pondok pesantren Tegalsari, Ponorogo -- terdapat sebuah syair Gambuh bernuansa ramalan :
 
Supaya pada emut
amawasa benjang jroning tahun
windu kuning kono ana wewe putih
gegamane tebu wulung 
arsa angrebaseng wedhon

"Ingatlah kalian semua, kelak di suatu masa depan tatkala mulai memasuki tahun windu kuning kencana, akan muncul wewe putih yang menggunakan senjata tebu wulung mampu mengalahkan wedhon."
      Tatanan politik dunia di awal milenium ketiga terdapat tiga kubu besar yakni: blok kapitalis-liberalis, blok sosialis-komunis, dan blok negara Islam. Andal-andal masing-masing dari ketiga kubu itu yakni Amerika Serikat (wewe putih), Republik Rakyat Tiongkok (windu kuning kencono), dan dunia Islam (wedhon) yang dalam keadaan terpecah-pecah dalam berbagai kubu-kubu kecil dan ke dalam berbagai aliran yang satu sama lain saling bertentangan. Amerika serikat sepanjang masa dapat dipastikan tetap memusuhi kedua blok lainnya sekaligus atau pun satu persatu. Hal tersebut sekarang ini dapat dibuktikan tindakan AS yang dengan gencarnya terus melakukan perburuan terorisme Islam.  Terhadap blok sosialis-komunis, AS berusaha mengepung teritori Tiongkok dengan menempatkan kekuatan militer armada kapal induk lengkap dengan pesawat tempur dan kapal perang pengawalnya dan terus-menerus mengadakan latihan militer bersama para sekutunya: Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan.
      Perang panas, perang dingin antara AS dan sekutunya melawan komunisme sedunia memang sudah berakhir dengan rontoknya Uni Sovyet menjadi negeri-negeri CIS, dan pada 1992 dikumandangkan ke penjuru dunia, "Komunisme sudah mampus ...!" kata Bush senior.
      Perang dunia model baru yang tengah berlangsung saat ini ialah "Perang dunia intelijen". Segenap aparat intel di seluruh dunia dikerahkan memburu teroris. Diperkirakan pada suatu hari di masa depan ada lagi perang baru yakni "perang dunia menghadapi monster". Dengan teknologi supercanggih manusia akan mampu membikin robot-robot cerdas yang pada akhirnya berubah menjadi monster yang malah berbalik menyerang manusia penciptanya.
      Konsep "Nasakom" Bung Karno yang bertujuan mendamaikan ketiga kubu dunia yang tetap abadi sampai hari ini dan terus bertarung tersebut tentu sebarannya sangat dikhawatirkan oleh blok kapitalis-liberalis. "Masa depan adalah misteri," kata Toer. Perjalanan sejarah tetap akan berlanjut terus dan ada pihak yang unggul dan kalah, tentu saja kemenangan diberikan kepada pihak yang lebih tepat dan sesuai dengan kehendak sejarah itu sendiri. History must go on forever.

******
Subowo bin Sukaris
HASTA MITRA Updated at: 8:02 PM

No comments :