9.2.11

Sabdo Palon, "The destruction of agricultural land of the archipelago."

Sabdo Palon, "The destruction of agricultural land of the archipelago."


mbah sghriwo

As time went on population growth in Java that is not comparable with the available agricultural land area, plus the environmental damage already decreed by Sabdo Palon in the fifteenth century as follows, "Java Land damaged by human activities that endanger the environment. As a result of self-employment do not cultivate the land longer enough to live results. The vast landed aristocratic feel sad too. Traders crops often suffer losses. The work of the workers and builders can no longer be relied upon to live. Farmers are no longer able to provide for his family life. All this happened due to the destruction of livelihoods of forest .

Warna-warna kang bebaya,
Angrusaken Tanah Jawi,
Sagung tiyang nambut karya,
Pamedal boten nyekapi,
Priyayi keh beranti,
Sudagar tuna sadarum,
Wong glidhik ora mingsra,
Wong tani ora nyukupi,
Pametune akeh sirna aneng wana.

For the farmer lives their life in the soil that is not how can they have the hereditary and the result of sweat itself. Farmlands, fields, and rice became the foundation of life and major work everyday, they cultivate a variety of plant and planted fruits and groceries. In the past life of the people in everyday Java prosperous enough with living like that.
      But in modern times is a pattern of agrarian life above is no longer possible because the level of soil fertility is much different because the environment was badly damaged due to rampant deforestation massive water damage eyes, or constriction of land for construction of housing facilities. Plus air pollution from vehicle engines fossil fuel.
      Java and the archipelago for centuries ago is an agricultural country until the modern era has not been transformed into a modern industrial country except in the form of gold mining natural resources, petroleum, copper, uranium, tin and others. And that's carried by foreigners such as Freeport, Newmont, Caltex, Chrysler, Shell and so on in addition, also managed by BUMN. Perhaps according to survey foreign secretly and they keep on Borneo indeed there are treasures abundant in the form of mineral that have not been explored, among others, gold, uranium, diamonds, petroleum, and others. Thus the discourse to move the capital of the Republic of Indonesia to Borneo which is triggered by Bung Karno not without good reason. Indonesia to explore their own nation is self-sufficient and independent in exploring the treasures of Borneo to make people's lives Nusantara "gemah ripah loh jinawi." And do not even hand over the management of Borneo treasures to foreigners.
      Terms as a prosperous agricultural land is already sufficient for the archipelago located in the fertile belt of the Equator and just know the rainy and dry seasons. Everything can tropical plant life and developed to meet the needs of their populations. The environment is still good that happened in the past and have been destroyed in these modern times.

*****
versi bahasa Indonesia
Sabdo Palon, "Hancurnya negeri agraris Nusantara."


mbah subowo bin sukaris


Seiring waktu berjalan pertumbuhan penduduk pulau Jawa yang tidak sebanding dengan luas lahan pertanian yang tersedia, ditambah rusaknya lingkungan hidup sudah dititahkan oleh Sabdo Palon pada menjelang abad kelimabelas sebagai berikut, "Tanah Jawa rusak akibat ulah manusia yang membahayakan lingkungan hidup. Akibatnya kerja mandiri mengolah tanah tidak lagi mencukupi hasilnya  untuk hidup. Para priyayi bertanah luas merasa sedih juga.. Pedagang hasil bumi seringkali menderita kerugian. Pekerjaan buruh dan tukang tidak lagi dapat diandalkan untuk hidup. Petani tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Semuanya itu terjadi akibat musnahnya hutan sumber penghidupan."

Warna-warna kang bebaya,
Angrusaken Tanah Jawi,
Sagung tiyang nambut karya,
Pamedal boten nyekapi,
Priyayi keh beranti,
Sudagar tuna sadarum,
Wong glidhik ora mingsra,
Wong tani ora nyukupi,
Pametune akeh sirna aneng wana.

Bagi kaum Tani nyawa kehidupan mereka berada di tanah yang tidak seberapa dapat mereka miliki secara turun-temurun maupun hasil keringat sendiri. Tanah ladang, tegalan, dan sawah menjadi tumpuan hidup dan pekerjaan utama sehari-hari, mereka mengolah dan menanaminya berbagai macam tumbuhan buah dan bahan makanan. Di masa silam kehidupan rakyat di Jawa sehari-hari cukup makmur dengan penghidupan seperti itu.
      Akan tetapi di masa modern ini pola kehidupan agraris tersebut di atas tidak lagi dimungkinkan karena tingkat kesuburan tanah sudah jauh berbeda karena lingkungan hidup rusak parah akibat maraknya pembabatan hutan besar-besaran yang merusak mata air, maupun penyempitan lahan untuk pembangunan sarana perumahan. Ditambah lagi pencemaran udara dari mesin-mesin kendaraan berbahan bakar fosil.
      Jawa dan Nusantara selama berabad yang silam merupakan negeri agraris dan sampai jaman modern ini belum berubah menjadi negeri industri modern kecuali dalam menambang kekayaan alam berupa emas, minyak bumi, tembaga uranium, timah dan lain-lainnya. Itupun dilakukan oleh maskapai asing seperti Freeport, Newmont, Caltex, Chrysler, Shell dan seterusnya di samping itu juga dikelolah oleh BUMN. Konon menurut hasil survei asing yang diam-diam dan mereka rahasiakan di Borneo memang terdapat harta karun melimpah berupa bahan tambang yang belum dieksplorasi antara lain emas, uranium, intan, minyak bumi, dan lain-lainnya. Sehingga wacana untuk memindahkan ibukota Republik Indonesia ke Kalimantan yang dicetuskan oleh Bung Karno bukan tanpa alasan yang masuk akal. Bangsa Indonesia dapat mengeksplorasi sendiri secara berdikari dan mandiri dalam menggali harta karun Kalimantan tersebut  untuk membikin rakyat Nusantara hidup "gemah ripah loh jinawi". Dan tidak sekalipun menyerahkan pengelolaan harta karun Kalimantan kepada pihak asing.
      Syarat sebagai negeri agraris yang makmur sebenarnya sudah mencukupi karena Nusantara berada di sabuk Khatulistiwa yang subur dan cuma mengenal musim hujan dan kemarau. Segala tumbuhan tropis dapat hidup dan dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan bagi penduduknya. Lingkungan hidup yang masih baik itu terjadi di masa silam dan telah musnah di masa modern ini. 

*****
Subowo bin Sukaris
HASTA MITRA Updated at: 3:04 PM

No comments :